MODEL 2D LEDAKAN BINTANG SUPERNOVA

0
10

SUPERNOVA bukan nama sebutan yang aneh dan sering terdengar. Sebutan Supernova pada prinsipnya adalah ledakan bintang dimana penyebab utamanya adalah tekanan pada inti bintang dan kemudian memicu ledakan.

Pada akhir kehidupan bintang, biasanya sesudah bererapa juta tahun bercahaya dan bersinar dengan cara seperti bahan bakar nuklir, ketika bahan bakar ini habis maka bintang meredup tetapi bagian luar dari bintang akan runtuh dan (tertarik) masuk ke bagian dalam inti bintang.

Runtuhnya bagian luar masuk ke inti dari bintang berjalan dengan sangat cepat dan membuat gaya yang besar dan akhirnya membuat ledakan.

Dalam hitungan yang cepat juga maka guncangan dari ledakan ini akan sampai ke permukaan bintang tersebut. Dalam waktu yang pendek maka bintang ini akan bersinar sekitar beberapa bulan, kemudian dalam beberapa waktu bintang ini akan benar-benar kehabisan energi dan menjadi benda gelap di luar angkasa.

Sewaktu meledak bintang ini akan terang sekitar 10 hingga 100 kali terang dari biasanya dan bisa mencapai temperatur yang tinggi sekitar 6000 kali panasnya Matahari.

Sightings of a rare breed of superluminous supernovae—stellar explosions that shine 10 to 100 times brighter than normal—are perplexing astronomers. First spotted only in last decade, scientists are confounded by the extraordinary brightness of these events and their explosion mechanisms.

Jika anda tertarik melihat proses meledakdan ingin mengetahui penyebaran energi yang terjadi sewaktu Supernova terjadi maka anda harus melihat model 2 Dimensi yang dibuat oleh Department of Energy’s National Energy Research Scientific Computing Center (NERSC) yang bekerja sama dengan the Lawrence Berkeley National Laboratory (Berkeley Lab).

Model Supernova ini tentu kompleks walaupun hanya dengan 2 Dimensi dimana keadaan mekanik secara detail diperlihatkan.

Kerumitan dari model ini juga harus mempertimbangkan massa atau ukuran berat dari bintang yang meledak. Semakin besar maka semakin kompleks.

Model dari Supernova ini secara garis besar akan seperti berikut:

Semua bahan bakar utama bintang berubah dari Hidrogen menjadi Helium;

Proses kehancuran terjadi dimulai ketika bintang roboh tertarik ke inti bintang tersebut, semua tertarik oleh gravitasi;

Semua bagian dari Helium akan berekasi dan berubah menjadi zat yang lebih berat seperti Oksigen atau Karbon;

Semua proses perubahan zat dari Helium terus terjadi hingga pada suatu ketika semua inti bintang menjadi Nikel atau Besi;

Pada saat tercipta inti yang berat dimana inti merupakan 1.5 kali dari massa bintang tersebut maka akan ada gaya yang besar berupa gerakan menarik yang sangat besar. Dengan gaya yang super besar maka inti dari Besi dan Nikel bisa pecah dan berpendar;

Pada saat Besi dan Nikel pecah dan berpendar maka akan ada lontaran partikel bermuatan;

Pada kondisi partikel ini tercipta dan berlompatan maka akan membuat suatu bintang yang disebut dengan Neutron Star. Pada kondisi ini keadaan bintang akan sangat padat dan memiliki energi yang super besar.

In addition to being insanely dense—a sugar-cube-sized amount of material from a neutron star would weigh more than 1 billion tons—it is also spinning up to a few hundred times per second. The combination of this rapid rotation, density and complicated physics in the core creates some extreme magnetic fields.

Terdengar menarik tetapi rumit penjelasan detailnya karena ada berbagai perubahan dan reaksi. Semua reaksi tersebut dibuat menjadi model 2 Dimensi.

 

Refernsi situs Berkeley Lab.