NEURON (BAGIAN OTAK) BISA AKTIVASI OLEH MAGNET, CARA BARU HACKING OTAK

0
24

OTAK MANUSIA mengendalikan tubuh baik sadar atau tidak sadar melalui sekitar 86 miliar neuron. Menyala dan mati bagian dari neuron ini berdasar perintah dari otak dan sangat rumit. Perintah dan nyala atau mati neuron menentukan tagan anda bergerak atau bagian tubuh lain termasuk kebiasaan tubuh sewaktu tidur melakukan respon.

Bagaimana jika tubuh anda terganggu dan respon dari neuron tidak seperti yang diinginkan? Pertanyaan tersebut sudah dikaji oleh para dokter dan mereka menemukan cara untuk mencoba memperbaiki hal tersebut.

John Hopkins Medicine mencba mempelajari hal ini dan mendapatkan cara untuk membuat neuron merespon, cara ini disebut TMS atau Transcranial Magnetic Stimulation.

TMS is a non-invasive method of brain stimulation that relies on electromagnetic induction using an insulated coil placed over the scalp, focused on an area of the brain thought to play a role in mood regulation.

Otak/neuron bisa diberi rangsangan untuk merespon dengan melalui induksi magnet melalui gulungan kabel kecil atau coil yang ditempatkan di bagian dalam tubuh.

Penempatan bagian dalam tubuh tidak repot juga, cukup goresan kecil pada kulit (permukaan tubuh atas) maka coil atau gulungan kabel bisa disisipkan.

Melakukan aktivasi atau rangsangan terhadap neuron tertentu masih tidak mudah dan dalam proses optimalisasi dan menunjukan perkembangan yang baik.

Rangsangan yang keluar dari gulungan kawat setara dengan kejutan pulsa yang dihasilkan oleh mesin MRI atau magnetic resonance imaging machines. Sewaktu pulsa dilakukan dengan cara berulang maka disebut dengan rTMS atau repetitive Transcranial Magnetic Stimulation.

We are pleased to announce that the Johns Hopkins Brain Stimulation Program is now offering Deep Transcranial Magnetic Stimulation (dTMS) utilizing the H-coil, which is a novel rTMS tool that enables direct stimulation of deeper and larger brain volumes.

Saat ini Johns Hopkins Brain Stimulation sudah berhasil melakukan rangasangan terhadap otakbagian besar.

Jika cara ini sudah efektif dan lebih akurat lagi maka tidak tertutup kemungkinan bahwa kelumpuhan yang saat ini tidak dapat disembuhkan dapat diperbaiki.

 

Referensi situs John Hopkins Medicine.