PEKERJAAN DI DUNIA & PERSAINGANNYA

0
170

Pada tahun 1935, George Gallup mendirikan badan riset di Amerika yang juga berfungsi sebagai Global Performance-Management Consulting Company. Mungkin mirip McKinsey, EY atau AC Nielsen hanya saja di Indonesia kurang dikenal (terutama jika dibanding AC Nielsen atau EY). Perusahaan ini bernama Gallup.

Perusahaan ini terkenal karena kebanyakan hail riset untuk masukan bagi riset berdasar public opinion polls yang sebetulnya dilakukan dari berbagai negara.

Data dari persaingan pekerjaan ini akan berdasar data dari Gallup (ditulis oleh Jim Clifton pada 7 September 2011).

My big conclusion from reviewing Gallup’s polling on what the world is thinking on pretty much everything is that the next 30 years won’t be led by U.S. political or military force. Instead, the world will be led with economic force — a force that is primarily driven by job creation and quality GDP growth.

Termasuk data yang lama, sekitar 5 atau 6 tahun yang lalu tapi beberapa hal sangat singkron dengan prediksi tersebut.

Cina, India dan Indonesia menunjukan perkembangan dari 2011 hingga saat ini (dari segi GDP).

Salah satu bagian dari tulisan referensi tersebut menyebutkan bahwa dalam 30 tahun kedepan bahwa dunia lebih cenderung digerakkan oleh ekonomi (dimana jenis/kualitas pekerjaan yang akan menumbuhkan GDP).

gallup job today persaingan kerja

Dalam tulisan di Gallup tersebut disebutkan bahwa persaingan di masa depan adalah pekerjaan bagus yang diperebutkan secara global.

Saat ini isu MEA dan Global Economy mulai terasa di Indonesia, tidak heran jika dalam hari-hari kedepan perebutan pekerjaan global mulai terasa. Anda harus bersaing dengan orang Afrika, Eropa, Amerika, Cina, India termasuk Malaysia di Jakarta lebih banyak lagi.

Anda harus khawatir ada hasil dari Gallup yang bisa diambil.

7 billion people on Earth, there are 5 billion adults aged 15 and older. Of these 5 billion, 3 billion tell Gallup they work or want to work. Most of these people need a full-time formal job. The problem is that there are currently only 1.2 billion full-time, formal jobs in the world. This is a potentially devastating global shortfall of about 1.8 billion good jobs. It means that global unemployment for those seeking a formal good job with a paycheck and 30+ hours of steady work approaches a staggering 50%, with another 10% wanting part-time work.

Anda harus menyiapkan diri:

ada 7 milyar orang di dunia;

5 milyar diantaranya berusia lebih dari 15 tahun;

3 milyar diantaranya ingin bekerja atau sudah kerja;

ketersediaan lapangan kerja formal 1.2 milyar.

Apa penyelesaiannya?

Orang kita asumsikan seperti perusahaan yang bersaing. Sedikit perusahaan dan orangnya dalam jumlah yang sama. Perusahaan ini harus berebut kue atau market share dari manusia. Agar menang, perushaan harus melakukan inovasi dan melakukan disversifikasi usaha.

Diperkirakan GDP Global akan pada posisi sekitar 200 Trilyun USD dan persaingan akan berdasar perebutan kue GDP ini.

Dalam tahun-tahun kedepan, tidak penting kekuatan militer atau pengaruh politik. Yang akan penting adalah perusahaan dari negara mana masuk dan memindahkan porsi keuangan negara satu ke negara lain.

Pemindahan uang ini juga berarti pemindahan peluang pekerjaan bagus. Persaingan akan berdasar dari pergerakan perusahaan besar dan uangnya.

Jika persentase global di tarik ke Indonesia dan dianggap penduduk Indonesia 250 juta. Asumsi orang yang ingin dan sedang bekerja adalah (3 milyar orang usia diatas 15 tahun dibagi 7 milyar total penduduk) 42.9 % dari 250 juta yaitu 107.14 juta orang.

Berdasar data BPS pada Agustus 2013, ada 118,19 juta orang (ada perbedaan dibanding 107.14 mungkin karena generalisir dan beda tahun asumsi 2011 vs 2013) ada perbedaan 11 juta (dengan pengangguran sebesar 7.3 juta orang).

Jika kedepannya tidak ada perusahaan baru yang membuat pekerjaan dan ada orang dari luar negara masuk maka porsi 118.19 juta ini berubah (bertambah). Perang kedepan adalah perebutan pekerjaan dan perusahaan yang bagus.

DATA BPS:

Pada Februari 2015, penduduk bekerja masih didominasi oleh mereka yang berpendidikan SD ke bawah sebesar 45,19 persen, sementara penduduk bekerja dengan pendidikan Sarjana ke atas hanya sebesar 8,29 persen.

Indonesia dan perusahaan asli (dari) Indonesia harus berubah menjadi inovatif atau disversifikai yang bisa melayani masyarakat global.

Jika tidak dilakukan Indonesia hanya akan menjadi pasar perusahaan asing (pegawai luar masuk) dan memindahkan potensi uang keluar.

Menurut data saat ini, laju pertambahan penduduk indonesia pada kisaran 2% dan laju pertumbuhan ekonomi pada kisaran 4% (Cina memiliki target pada tahun 2016 pada kisaran 6%). Sepertinya jika dilakukan generalisir, maka masih ada ruang untuk pergerakan GDP untuk saat ini. Kita lihat kedepannya.