PERANG MINYAK USA – SAUDI BERAKHIR, HARGA AKAN NAIK

0
138

KAHLID AL-FALIH menteri Energi Arab Saudi mengakui bahwa selama dua tahun ini terjadi perang terkait kepentingan akan minyak mentah (crude oil).

Perebutan dominasi crude oil ini terjadi dari tahun 2014 (sekitar Mei dimana harga minyak masih pada kisaran diatas 100 USD). Selama dua tahun ini, harga minyak mentah naik turun dalam batas yang kecil masih diatas 100 USD/barel hingga dimulai September 2015 harga minyak mentah tidak dapat dibendung dan terjun kebawah dengan nilai lebih rendah dari 100 USD/barrel. Perang harga dengan menggelontorkan minyak dengan jumlah yang banyak dilepas ke pasar.

Khalid Al-Falih berkesempatan membicarakan pola bisnis minyak mentah Saudi Arabia berbarengan dengan kunjungan ke Saudi Aramco di Houston.

Two years and day after U.S. oil price peaked at $107 barrel, he sketched out the end of the world’s oil surplus and the beginning of a new chapter in the cyclical energy business in an exclusive interview with the Houston Chronicle.

Khalid Al-Falih sendiri adalah seorang alumni dari Texas A&M University sehingga cenderung mengetahui pola kegiatan bisnis minyak Amerika.

Khusus terkait perang harga dan volume minyak mentah ini membuat Amerika menderita perekonomian secara tidak langsung dimana ada sekitar 100 ribu pekerjaan hilang. Perusahaan mintak dari negara lain dan termasuk perusahaan jasa terkait Oil and Gas juga sebetulnya menderita besar dimana terjadi banyak pemtusan hubungan kerja dan pengurangan benefits (termasuk allowance).

Arab Saudi sendiri baru-baru ini memperkenalkan model ekonomi baru dimana akan membangun perekonomian negara tanpa menggunakan minyak mentah. Generasi muda sesudah Raja terakhir berpulang memiliki arah ekonomi yang kontras.

Minyak dan gas tidak akan menjadi titik berat bagi sumber pendanaan negara tetapi secara berangsur memasuki investasi dan pembangunan ke arah padat teknologi dan dimulai dengan investasi ke Unicorns termasuk ke Uber.

Walaupun saat ini harga minyak mentah (brent oil) pada kisaran 50 USD/barel dan secara meyakinkan naik dimana kesepakatan mengontrol komoditas terjadi tetap Arab Saudi akan mengarah untuk melepaskan diri dari ketergantungan terhadap oil and gas.

Khalid Al-Falihsecara khusus menyebutkan bahwa kedepannya menjadi penentu harga bukan posisi yang akan dicari oleh Arab Saudi tetapi menjadi supply – demand akan mejadi kepentingan Arab Saudi. Hal ini akan dilakukan oleh Arab Saudi hingga harga stabil (mungkin pada kisaran 100 USD/barel).

Berita bersumber dari berbagai sumber terutama HOUSTON CHRONICLE.