RISET: KENAPA ORANG TIDAK BERTANGGUNG JAWAB JIKA DISURUH SALAH?

0
432

Didalam berbuat suatu tindakan ada permasalahan moral apakah hal tersebut benar atau salah.

Issues of personal responsibility, moral action, and social influence are central to many accounts about human nature.

 

 

 

Tapi bagaimana jika seseorang disuruh (coercion) salah dan tetap dijalankan? Bagaimana jika disuruh dibawah tekanan atau kekerasan? Kenapa terus dijalankan apakah ada yang salah?

Suatu riset menyelidiki hal ini dan ternyata terbukti bahwa perintah yang dipaksakan atau disuruh akan menyebabkan pelaku kegiatan (walaupun salah) mungkin akan tetap melakukan dan merasa tidak bertanggung jawab (karena diperintah).

BAGAIMANA PERCOBAAN DILAKUKAN

Cara PercobaanPercobaan dijalankan oleh Université Libre de Bruxelles dan University College London kemudian dipublikasikan pada pertengahan Februari 2016.

Percobaan dijalankan dengan beberapa kondisi dimana pada intinya ada seorang agen (penindas) yang diberi perintah untuk menyakiti dan/atau mengambil uang dari korban (korban adaalah petugas yang kadang memang terkena sengata listrik dan kadang berpura-pura untuk melihat respon agen).

coercion also reduced the neural processing of the outcomes of one’s own action.

 

 

Dari percobaan tersebut, terbukti jika agen diberi perintah maka agen tersebut melakukan tugas dengan (sedikit) tidak merasa bertanggung jawab atas dampak yang terjadi.

“Maybe some basic feeling of responsibility really is reduced when we are coerced into doing something,” says Patrick Haggard of University College London. “People often claim reduced responsibility because they were ‘only obeying orders.’

 

 

 

 

Didalam percobaan juga terdapat keadaan hasil dimana ternyata jika diperintah suatu Coercin (perintah dalam tindasan atau untuk menindas) maka respon dalam otak (neural process) juga berkurang.

Interestingly, coercion also reduced the neural processing of the outcomes of one’s own action.

 

 

 

Dari percobaan tersebut bisa disimpulkan bahwa jika seseorang melakukan tugas karena disuruh maka perasaan bersalah berkurang dan ada respon natural dimana terjadi perasaan tidak terlalu bersalah (walaupun hasilnya salah). Berkurangnya perasaan salah ini bukan semata karena menghindari tanggung jawab terbukti  juga neural process berkurang tidak seperti normal jika pekerjaan dilakukan karena keinginan/rencana sendiri.

Tahap selanjutnya yang menarik untuk ditindak lanjuti, menurut seorang researcher, adalah untuk melihat respon seseorang jika disuruh melakukan pekerjaan salah. Apakah melawan atau melanjutkan (dan merasa tidak bertanggung jawab)?

NUREMBERG DEFENSE

Adolf Eichmann mungkin yang paling terkenal menggunakan Dampak Coercin dengan pernyataannya sewaktu diadili karena kegiatan kekerasan NAZI.

I cannot recognize the verdict of guilty. . . . It was my misfortune to become entangled in these atrocities. But these misdeeds did not happen according to my wishes. It was not my wish to slay people.

 

 

 

Di dalam pengadilan yang dilakukan, Adolf Eichmann mengemukan merasa tidak bersalah dan menyebutkan bahwa kegiatan atau tindakan yang terjadi bukan keingingan dia semata.

Bagaimana dengan negeri tercinta kita, ada sebutan korupsi beramai-ramai dan ada juga sebutan jika ada yang tertangkap maka hal tersebut murni kecelakaan (yang tidak tertangkap yang tidak celaka – entah seberapa banyak yang dirampok dan berapa maling yang selamat).

Baca juga posting terkait korupsi: https://www.lembar.info/indeks-korupsi-indonesia-dunia-2015/.